Industri Kreatif sebagai salah satu alternatif TKDN

Merujuk dokumen Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 dari Departemen Perdagangan Republik Indonesia (th.2008), sebagaimana berikut ini:

Terdapat beberapa hal yang menarik yang dapat dikaji lebih lanjut oleh Depkominfo dan industri ICT.

Beberapa intisari paper dapat dijelaskan berikut ini:

BAGIAN 3, RENCANA STRATEGIS PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF INDONESIA

ANALISIS & PEMETAAN KONDISI PONDASI & PILAR EKONOMI KREATIF

A) ANALISIS KONDISI PILAR DAN PONDASI INDUSTRI KREATIF

SUMBER DAYA INSANI (PEOPLE)

  1. Jumlah Creative Worker masih rendah dibandingkan sektor lain, dengan kualita syang masih dapat ditingkatkan.
  2. Menjadi creative talent mulai menarik
  3. Enterpreneurship mulai tumbuh
  4. Creative talent Indonesia dan perannya di dunia internasional
  5. Pencipta creative talent (terutama universitas) sedikit dan timpang antar daerah

INDUSTRI

  1. Potensi Pasar Dalam Negeri maupun Luar Negeri
  2. Daya Tarik Industri Kreatif
    1. PERIKLANAN
    2. ARSITEKTUR
    3. PASAR BARANG SENI
    4. KERAJINAN
    5. DESAIN
    6. FESYEN
    7. FILM, VIDEO DAN FOTOGRAFI
    8. PERMAINAN INTERAKTIF
    9. MUSIK
    10. SENI PERTUNJUKAN
    11. PENERBITAN DAN PERCETAKAN
    12. LAYANAN KOMPUTER DAN PIRANTI LUNAK
    13. TELEVISI DAN RADIO
    14. RISET DAN PENGEMBANGAN
  3. Struktur industri
    1. Industri kreatif yg butuh Capex tinggi adalah industri televisi dan film (hal.81).
    2. Semakin banyak TV daerah semakin meningkatkan peluang industri kreatif di daerah (hal.81).
    3. Kebutuhan jalur distribusi subsektor industri kreatif yaitu:
      1. Konektivitas virtual semakin baik seiring dengan membaiknya industri telekomunikasi (hal.82)
  4. Iklim Usaha dan Persaingan
    1. Kanal (frekuensi). Teknologi transmisi penyiaran yang menggunakan teknologi analog memiliki keterbatasan kanal (frekuensi). Di pihak lain, iklim penyiaran yang kondusif merangsang tumbuhnya perusahan-perusahaan penyiaran. Di beberapa daerah, pertumbuhan jumlah perusahaan penyiaran sudah melampaui kapasitas. Akhirnya terjadi perebutan kanal. Regulasi yang sesuai harus dilakukan, implementasi peralihan k e teknologi digital, yang meniadakan keterbatasan kanal, dilakukan. (hal.82 dan 83)
  5. Lemahnya Peran Pusat Desain Industri dalam Industri

TEKNOLOGI

….Oleh karena itu, ICT merupakan infrastruktur yang vital bagi pengembangan industri ekonomi kreatif ini (hal.83). ICT ini khususnya sangat dibutuhkan dalam subsektor yang memiliki substansi dominan media, desain dan iptek serta intensitas sumber daya yang bersifat intangible, seperti: Film, Video, Fotografi, Musik, TV dan Radio, Periklanan, Penerbitan  Percetakan, arsitektur, desain, musik, riset dan pengembangan, permainan interaktif dan terutama layanan komputer piranti lunak.

Pada rantai kreasi, ICT umumnya dibutuhkan untuk memperoleh, menyebarkan dan melakukan pertukaran informasi, untuk memperkaya ide kreasi dan pada rantai distribusi dan komersialisasi, dukungan ICT dibutuhkan dalam proses transaksi dan promosi.

………….

Secara umum, kondisi teknologi pendukung industri kreatif adalah sebagai berikut (hal.84):

  1. Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Teknologi Pendukung.
    1. Ketimpangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi antar daerah ..besar.
    2. Telekomunikasi semakin baik; tarif semakin terjangkau, ponsen semakin murah, dan penyedia internet access semakin banyak.
    3. Penetrasi internet masih rendah menghambat laju konsumsi produk kreatif.
    4. Bandwidth internet kecil mengurangi kesempatan ruang gerak pelaku usaha.
    5. Komputer, laptop, hardware pendukung masih merupakan barang mahal.
    6. Mahalnya sertifikasi pada penggunaan pirantu lukang ataupun piranti keras pendukung.
    7. Harga piranti lunak yang relatif mahal.
    8. Program pemerintah Internet goes to school
    9. Keengganan pelaku melakukan investasi pada teknologi.
  2. Teknologi produksi berbasis media.
    1. Penetrasi jaringan media yang cukup luas.
    2. Ketersediaan teknologi post prodcution pada film dan iklan kurang memadai.
  3. Teknologi penghasil bahan baku bagi industri kreatif.
    1. Lembaga riset cukup memadai jumlahnya, namun belum optimal pada penelitian-penelitian bahan baku.
    2. Sebagian besar mesin penghasil bahan baku diimpor dan sudah obsolete (khususnya tekstil dan kulit)
  4. Utilisasi kemampuan universitas dan penelitian diperlukan.
  5. Kurangnya penguasaan teknologi oleh para pekerja kreatif di Indonesia.

SUMBER DAYA (RESOURCES)

  1. Keunikan Bahan Alam Indonesia
  2. Kelangkaan Bahan Baku
  3. Kurang Motivasi Mengolah Bahan Baku
  4. Peluang menjadi Laboratorium Dunia
  5. Kerusakan Hutan Makin Parah
  6. Maraknya pemanfaatan bahan baku “separuh nyolong”

INSTITUSI

  1. Produk industri kreatif masih merupakna kebutuhan sekunder (nice to have)
  2. Perlindungan terhadap HAKI masih lemah
  3. Peran asosiasi industri dan ikatan profesi perlu dikembangkan.

LEMBAGA PEMBIAYAAN (FINANCIAL INTERMEDIATERY)

  1. Kebutuhan akan pembiayaan
  2. Jumlah dan skema pembiayaan bagi Industri Kreatif.

B) PEMETAAN ANALISA SWOT INDUSTRI KREATIF (hal.92-94)

C) SASARAN & ARAH PENGEMBANGAN PONDASI DAN PILAR TAHUN 2015

SUMBER DAYA INSANI (PEOPLE)

Sasaran penguatan pilar sumber daya insani pada tahun 2015 adalah: “Masyarakat dengan pola pikir dan moodset kreatif yang didukung oleh talenta dan pekerja kreatif“.

Sasaran ini dapat dicapai dengan arah pengembangan penguatan pilar Sumber Daya Insani sebagai berikut:

  1. Peningkatan jumlah SDM kreatif yang berkualitas secara berkesinambungan dan tersebar merata (widespread) di wilayah nusantara.
  2. Peningkatan jumlah dan perbaikan kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan talenta kreatif yang sesuai dengan kebutuhan.
  3. Peningkatan penghargaan masyarakat terhadap insan kreatif sebagai profesi yang membawa nilai tambah secara ekonomi dan sosial.
  4. Peningkatan jumlah enterpreneur kreatif secara signifikan sehingga mendorong tumbuhnya lapangan kerja kreatif.
  5. Pengakuan dunia internasional terhadap kualitas insan kreatif Indonesia yang kiprahnya secara langsung maupun tidak langsung dapat dirasakan oleh bangsa Indonesia.

INDUSTRI

Sasaran 2015: Struktur Industri kreatif yang unggul di pasar domestik dan asing, dengan peran dominan wirausahawan nasional dalam suatu iklim usaha dan persaingan yang sehat.

Sasaran ini dicapai dengan arah pengembangan penguatan pilar industri sebagai berikut:

  1. Peningkatan daya tarik industri subsektor industri kreatif, agar menjadi tempat yang menarik untuk berkarir dan berinvestasi.
  2. Peningkatan efisiensi serta produktivitas industri untuk meningkatakan keuntungan komparatif.
  3. Peningkatan inovasi bemuatan lokal, untuk menciptakan keunggulan kompetitif.

TEKNOLOGI

Sasaran 2015, diharapkan tercapai kondisi:

  1. Terdapat kombinasi antara design driven technology dan market-friendly inovation (seperti halnya Nokia).
  2. Dilakukannya riset dan pengembangan bersifat pragmatis (sesuai kebutuhan pasar/mainstream) dan futuristik (new product/concept).
  3. Teknologi pendukung industri kreatif dapat diperoleh dengan mudah dan dengan harga terjangkau oleh para pelaku Industri Kreatif, khususnya piranti lunak hal ini akan membuat para insan kreatif dapat lebih percaya diri menunjukkan hasil karyanya ke dunia internasional karena dengan menggunakan piranti lunak bukan bajakan.

Secara ringkas,  sasaran penguatan pilar teknologi yang ingin dicapai tahun 2015: “Teknologi yang memperkaya ide kreasi, mentransformasi ide menjadi karya nyata terjangkau masyarakat Indonesia dan senantiasa berevolusi menuju inovasi yang lebih baik”.

Sasaran ini dapat dicapai dengan arah pengembangan penguatan pilar teknologi sebagai berikut:

  1. Pembentukan basis-basis teknologi pendukung industri kreatif menuju klaster teknologi.
  2. Penguatan kapasitas kemampuan penguasaan teknologi dan computer literacy.
  3. Penguatan iklim usaha kondusif untuk merangsang investasi teknologi dan infrastruktur teknologi.

SUMBER DAYA (RESOURCES)

Secara ringkas, sasaran penguatan pilar sumber daya di tahun 2015 adalah: “Pemanfaatan bahan baku sebesar-besarnya bagi industri lokal untuk menciptakan nilai tambah dan tingkat utilisasi yang tinggi dan ramah lingkungan”.

(Contoh: kriya kertas (keras bekas), plastik daur ulang dan karet, scrap kayu (mebel)).

Sasaran ini dapat dicapai dengan arah pengembangan penguatan pilar sumber daya sebagai berikut:

  1. Penguatan kemampuan SDM dalam memanfaatkan bahan baku yang berasal dari alam.
  2. Peningkatan apresiasi dan sadar lingkungan di subsektor industri yang intensif menggunakan bahan baku alam.
  3. Pembentukan basis-basis teknologi yang mengolah sumber daya alam pendukung industri kreatif.
  4. Penciptaan iklim kondusif untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan baku yang dibutuhkan oleh industri kreatif dalam negeri.

INSTITUSI (INSTITUTION)

Sasaran penguatan pilar institusi tahun 2015 adalah : “masyarakat berpemikiran terbuka yang mengkonsumsi produk kreatif lokal”.

Sasaran ini dapat dicapai dengan arah penguatan pilar institusi sebagai berikut:

  1. Penciptaan penghargaan terhadap hak atas kekayaan intelektual (HKI) dan pengakuan terhadap manfaatnya bagi ekonomi;
  2. Peningkatan apresiasi terhadap budaya bangsa yang diwujudkan dalam penghargaan pada produk bermuatan budaya daerah/nasional yang berkualitas;
  3. Peningkatan kesadaran dan penghargaan dunia internasional terhadap produk / jasa bermuatan budayanya yang membawa manfaat ekonomis;
  4. Penciptaan masyarakat kreatif yang saling menghargai dan saling bertukar pengetahuan demi kuatnya industri kreatif nasional.

LEMBAGA PEMBIAYAAN (FINANCIAL INTERMEDIARY)

Sasaran penguatan pilar lembaga pembiayaan tahun 2015 adalah : “tercapainya tingkat kepercayaan yang tinggi oleh lembaga keuangan maupun donor terhadap industri kreatif sebagai industri yang menarik untuk berinvestasi dan terciptanya informasi simetrik antara pelaku usaha dengan lembaga intermediasi.

Sasaran ini dapat dicapai dengan arah penguatan lembaga pembiaayaan sebagai berikut:

  1. Penciptaan skema dan lembaga pembiayaan yang mendukung tumbuh kembangnya industri kreatif di Indonesia;
  2. Penguatan hubungan antara bisnis, pemerintah dan cendekiawan dengan lembaga keuangan.

KOLABORASI ANTAR AKTOR UTAMA

Untuk mendapatkan hasil optimal pengembangan industri kreatif, diperlukan kolaborasi antar aktor utama dengan starting point dari ketiga aktor utama ini adalah:

  1. Komitmen cendekiawan, bisnis dan pemerintah, koordinasi antara ketiga aktor secara berkesinambungan, serta mengupayakan sinergi untuk mengembangkan industri kreatif.
    1. Komitmen ini meliputi keterlibatan non finansial dan finansial. Dalam hal finansial , pembiayaan program pengembangan industri kreatif dapat dilakukan melalui: APBN, dana donor lokal dan asing (Pemerintah), melalui APBN, Corporate Social Responsibility, dan R&D (bisnis), atau alokasi dana riset (cendekiawan). Sedangkan secara non finansial dapat berupa pelaksanaan administrasi publik yang lebih cepat dan efisien, komitmen tenaga pendidik untuk memberikan materi sebaik-baiknya, atau dukungan pelaku usaha untuk memberikan mentoring kepada pihak yang terkait/berkepentingan.
  2. Membentuk knowledge space bagi industri kreatif dengan menciptakan media pertukaran informasi, knowledge, skill, teknologi, pengalaman, preferensi dan lokasi pasar, serta informasi-informasi lainnya.
    1. Media informasi ini dimaksudkan untuk mengusahakan terciptanya kondisi informasi sempurna bagi seluruh pelaku industri kreatif. Kondisi informasi sempurna, simetris bagi seluruh pelaku sangat penting untuk menciptakan iklim industri yang kondusif menuju perkembangan yang agresif.

Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Berdasarkan analisis serta penentuan arah dan saran pengembangan industri kreatif , maka peta jalan penguatan pilar dan landasan (2009-2015) adalah sebagai berikut:

Hal. 107

….

Peta jalan pengembangan industri kreatif di atas dapat dijabarkan menjadi arah serta strategi pengembangan pada matriks berikut ini. Arah serta strategi ini nantinya merupakan pedoman untuk mengembangkan industri kreatif pada masing-masing lembaga pemerintah terkait dalam membuat rencana kerja atau rencana aksi.

SASARAN:

  1. Masyarakat dengan pola pikir dan moodset kreatif yang didukung oleh talenta dan pekerja kreatif……..
    1. Arah: Peningkatan jumlah SDM kreatif yang berkualitas :
      1. Strategi: ……….
      2. ……Membangun akses pertukaran informasi dan pengetahuan (knowledge sharing) di masyarakat lewat ruang publik baik secara fisik maupun maya, dalam skala nasional maupun internasional (DEPERDAG, DEPKOMINFO….)…hal.108.
    2. Arah: Peningkatan jumlah dan perbaikan kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan talenta kreatif yang sesuai kebutuhan.
      1. Strategi: ……….
      2. ……Menciptakan link and match antara lulusan pendidikan tinggi dengan sektor industri kreatif yang membutuhkan. (DEPDIKNAS….. DEPKOMINFO….)…hal.109.
    3. Arah: Penekanan komitmen dan political will pemerintah untuk meningkatkan penghargaan masyarakat terhadap insan kreatif sebagai profesi yang membawa nilai tambah secara ekonomi dan sosial.
      1. Strategi: Memberikan dukungan kepada insan kreatif yang berbakat yang mendapat kesempatan di dunia internasional. (DEPLU, DEPPERDAG….. DEPKOMINFO….)…hal.109.
      2. Memberikan dukungan kepada kegiatan dan organisasi seni budaya dan iptek yang berperan dalam industri kreatif…(DEPPERDAG, DEPPAR, , DEPKOMINFO…)
      3. Menyelenggarakan acara dan program yang menggali mengangkat dan mempromosikan talenta kreatif yang ada di masyarakat (DEPPERDAG, DEPPAR, DEPKOMINFO….)
      4. Membangun mekanisme kemitraan antara insan kreatif terkemuka dan yang potensial untuk dikembangkan lewat proses mentoring (DEPPAR, DEPPERIN, DEPPERDAG, DEPKOMINFO)
    4. Arah: Peningkatan jumlah enterpreneur kreatif secara signifikan sehingga mendorong tumbuhnya lapang kerja kreatif.
    5. Arah: Pengakuan dunia internasional terhadap kualitas insan kreatif Indonesia yang kiprahnya secara langsung maupun tidak langsugn dapat dirasakan oleh bangsa Indonesia.
  2. Industri kreatif yang unggul di pasar domestik dan asing, dengan peran dominan wirausahawan lokal, dalam suatu iklim usaha dan persaingan yang sehat.
    1. Arah: Peningkatan daya tarik, subsektor industri kreatif, agar menjadi tempat yang menarik untuk berkarir dan berinvestasi.
      1. Strategi: Memperluas jangkauan distribusi misalnya dengan memperluas saluran (channel) distribusi. (DEPPERDAG, DEPKOMINFO, PEMDA)
      2. ….
    2. Arah: Peningkatan efisiensi serta produktivitas industri untuk meningkatka keunggulan komparatif.
      1. Strategi: ….
      2. Melakukan penataan jangkauan distribusi meliputi infrastruktur transportasi serta infrastruktur komunikasi (DEP-PU, PEMDA, DEPHUB, DEPKOMINFO)
      3. iii.      ….
    3. Arah: Peningkatan inovasi bermuatan lokal, untuk menciptakan keunggulan kompetitif.
      1. Strategi: ….
      2. Melakukan diseminasi informasi pasar, pengetahuan, desain, dan teknologi dengan dikembangkannya melalui pusat informasi ekonomi kreatif (DEPPERDAG, DEPKOMINFO, DEPDIKNAS)….—> (SIMPLIK BTIP)
      3. Memberikan apresiasi/penghargaan kepada insan kreatif secara berkesinambungan (DEPPERDAG, DEPKOMINFO….)
      4. ….
  3. Teknologi yang memperkaya ide kreasi, memperkaya ide kreasi, mentransformasikan ide menjadi karya nyata, terjangkau masyarakat Indonesia dan senantiasa berevolusi menuju inovasi yang lebih baik.
    1. Arah: Pembentukan basis-basis teknologi pendukung industri kreatif menuju klaster teknologi.
      1. Strategi: Membuat prioritas basis-basis pendukung teknologi kreatif, khususnya yang terkait dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (DEPKOMINFO, DEPDIKNAS, BPPT, DEPPERIN).
      2. Mengembangkan industri piranti keras dalam negeri sebagai penopang teknologi  industri kreatif (DEPPERIN, DEPKOMINFO, BKPM).
    2. Arah: Penguatan kapasitas kemampuan teknologi SDM dan computer literacy.
      1. Strategi: Meningkatkan jumlah dan mutu lembaga pendidikan dan pelatihan TIK (DEPDIKNAS, DEPKOMINFO)
      2. Menjalin strategic partnership dengan negara yang sudah maju pada teknologi kreatif (technocreative)….(MENRISTEK….DEPKOMINFO)
      3. Mengembangkan pengelolaan sertifikasi atas teknologi (MENRISTEK, …DEPKOMINFO)
      4. Mengembangkan internet goes to sentra-sentra UKM/IKM Industri kreatif (DEPKOMINFO, PEMDA).
    3. Arah: Penguatan iklim usaha kondusif untuk merangsang investasi teknologi dan infrastruktur teknologi.
      1. Strategi: Melakukan revitalisasi regulasi impor teknologi pendukung industri kreatif dan tarif komunikasi (DEPERDAG, ….,BEA CUKAI, DEPKOMINFO)
      2. Melakukan sosialisasi regulasi TIK kepada seluruh lapisan masyarakat secara intensif (DEPKOMINFO)
      3. Memberikan insentif-insentif investasi teknologi serta infrastruktur teknologi (BKPM, DEPKOMINFO, DEPDIKNAS, DEP.PU)
  4. Pemanfaatan bahan baku sebesar-besarnya bagi industri lokal untuk menciptakan nilai tambah dan tingkat utilisasi yang tinggi dan ramah lingkungan.
    1. Arah: Penguatan kapasitas kemampuan SDM dalam memanfaatkan bahan baku yang berasal dari alam.
      1. Strategi: Peningkatan apresiasi dan promosi sadar lingkungan di subsektor industri yang intensif menggunakan bahan baku alam.
      2. Pembentukan basis-basis teknologi yang mengolah sumber daya alam pendukung industri kreatif.
      3. Penciptaan iklim kondusif untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan baku yang dibutuhkan oleh industri kreatif dalam negeri.
      4. Masyarakat berpemikiran terbuka yang mengkonsumsi produk kreatif lokal.
  5. Penciptaan penghargaan terhadap HKI & pengakuan terhadap manfaatnya bagi ekonomi
    1. Arah: Mengkampanyekan pentingnya kreativitas dan HKI sebagai modal utama keunggulan bersaing dalam era ekonomi kreatif (DEPKUMHAM, DEPDIKNAS, DEPKOMINFO)
    2. Memberantas praktek pembajakan produk kreatif yang menghambat tumbuhnya kreativitas (DEPKUMHAN, DEPKOMINFO, POLRI)
    3. Menyusun dan mengimplementasikan kebijakan mengenai HKI secara konsisten, efisien dan mengedepankan muatan ekonomis di dalam HKI (DEPKUMHAM, DEPKOMINFO, DEPPERDAG, DEPPERIN)
    4. ….
  6. Peningkatan apresiasi terhadap budaya bangsa yang diwujudkan dalam penghargaan pada produk bermuatan budaya daerah/nasional yang berkualitas.
    1. Strategi: …
    2. Mengkampanyekan penggunaan produk kreatif dalam negeri sebagai budaya bagi masyarakat dan bentuk apresiasi masyarakat (DEPPERDAG, DEPPAR, DEPPERIN, DEPKOMINFO)
    3. ….
    4. ..
  7. …..

Menuju Pencapaian Tahun 2015, Kolaborasi Antar Aktor Ekonomi Kreatif

Peran Pemerintah dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif.

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: